Ngetrip Ka Garut – Leuwi Jurig

Pada suatu sore, Si Ade (Sohib kantor) berujar dengan sangat girangnya, “Ndri liat nih, indah kieu nya.” katanya sambil menunjukan beberapa foto di akun instagramnya.

“Wih, enya. dimana ieu Mang?” — (Dimana ini, Mang?)

“Garut, Ndri. Hayu ah kita acarakan kesana.” Jawabnya singkat. Tanpa melewati debat yang berkepanjangan, saya pun langsung tanda tangan, tanda setuju. bahkan, Sangat setuju.

StockSnap_E6ZD0ZMF8D

Berangkatlah kita. pada jumat malam itu, Saya, si sade, jeni, yoga dan si shum langsung meluncur untuk menyambangi tempat yang memang lagi hits di Garut itu. Kalau tak salah (berarti benar) tempat itu adalah LeuwiJurig dan LeuwiTonjong.

Ngomong ngomong, gambar di atas hanya ilustrasi, di antara kita ga ada yang punya VW Combi. itu hanya penghias saja, biar postingan ini indah. Ga apa apa ya? kalau apa apa, saya hapus nih.

1. Leuwi Jurig

Untuk orang orang di bawah garis keturunan Sunda, denger kata Jurig pasti Ngeri sendiri. Dari kecil kita sudah dicekoki cerita mengenai betapa berbahayanya Jurig ini.

“Hati hati, jangan keluar malam sendirian, nanti diculik Jurig.”

“Kalau mau tidur, baca doa dulu, biar tidurnya ga mimpi ketemu Jurig.”

Kemarin saya tidur lupa baca doa. Mimpi ketemu Jurig sih kaga, malah mimpi diuber-uber debt collector. Padahal sejauh ini kan angsuran saya lancar. Tapi ah.. sudahlah.

Jurig itu makhluk halus atau hantu, kawan. Entah kenapa ini tempat namanya Leuwi jurig. Kalau di translate secara keseluruhan, berarti leuwijurig itu artinya: Ghost river atau Sungai hantu. Kan ngerrri!

Tapi anehnya, bikin penasaran. 😀

Dari garut kota, untuk mencapai leuwi jurig ini, kurang lebih dibutuhkan waktu 4jam an. Iye, jauh emang. Apalagi kalau yang jalanin mobilnya ga tau jalan sama sekali. 1 jam perjalanan mungkin bisa dipakai untuk nanya ke warga plus ngopi-ngopi dulu di warung pinggir jalan sekalian dinginin pantat.

Leuwijurig yang berada di Kecamatan Bungbulang ini sebenernya bukan tempat wisata, Bos. Lebih tepatnya… belum. Instagram aja yg meng-hits-kannya, sehingga banyak orang penasaran untuk renang atau sekedar foto-foto disini.

Pas kita nanya ke warga setempat, ternyata penduduk sekitar taunya itu bukan leuwi jurig, tapi Leuwi Rapit. Entah siapa yang pertama kali men-jurig-kannya. Jurig teh ah!

Pas sampai disana, bukannya girang yang didapat, kita malah langsung kecewa. Bagaimana tidak, 4 jam perjalanan yang dilalui ternyata cuma untuk mendatangi sungai besar yang dijadikan tempat penggalian pasir.

“Hadeuh, yang kayak ginian mah, di belakang rumah gue juga banyak.” Celetuk Si Yoga dengan nada penuh kekecewaan.

Masih penasaran, saya pun bertanya sama salah satu bapak bapak penggali pasir disana.

Ooh, leuwi rapit nya, A? Leres ieu memang leuwi rapit, tapi nu sae mah sanes didieuna, cobi rada ka girang, A. Tuh, jalanna ka palih ditu.” — (Ooh, betul ini memang leuwi rapit, tapi yang bagusnya mah bukan disini, tapi disana). Jawab si Bapak sambil menunjuk arah yang harus kita tuju.

Sejenak kekecewaan kita langsung terobati. Si yoga pun ekpresinya kembali ceria, padahal gajian masih lama.

Sampai lah kita ke Leuwi Jurig tersebut. Aih, ternyata bener, indah. Walaupun saat itu airnya tak terlalu jernih (karena mungkin habis hujan), tapi kita tak kecewa.

Kalau digambarkan yah (maaf ini kalau penggambarannya kurang maksimal), Leuwi jurig itu bak kolam renang alami. Yang makin bikin keren, dindingnya terbuat dari batu alami yang tinggi tinggi. Dan satu lagi, saat itu ngga ada orang lain yang dateng. Kita berasa punya kolam pribadi. 😀

Ada peribahasa, air beriak, tanda tak dalam. Nah di leuwi jurig ini airnya diem, Pak. Berarti apa? Berarti dalam.

Hati hati aja untuk yang ga bisa atau baru belajar renang. Konon kata warga setempat, dalemnya nyampe 5 meter. Kan ngeri. Saran kami, bawa ban atau pelampung sendiri. Karena seriusan, disini ga ada yg nyewain. Boro boro sewa ban, tiket masuk aja ga pake. 😀

Tapi untuk yg hobi renang, ini bak surga tersembunyi. Naik batu, loncat lagi. Naik batu, loncat lagi. Naik lagi, si yoga kelelep.

IMG_20170422_190020_1

Itu yang kita lakuin berkali kali. Kayak anak kecil, memang. Tapi kita harus jadi anak kecil untuk menikmati hal hal seperti ini.

Seru, aslinya. Tapi tetap ya, keselamatan yang utama. Apalagi di alam liar seperti ini. Tetap waspada, terutama jaga perilaku dan kata kata. 🙂

Next.. Kita bahas tentang leuwi tonjong. Disini udah kepanjangan, Kengkawan.

Foto by: Gema Nugraha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s